Thursday, 3 July 2014
muslims in minor..
berdasarkan pengalaman saya yang sempat dekat dengan beberapa muslim dan muslimah di luar negeri yang memang posisi mereka adalah minoritas. saya ingin bercerita tentang muslim di singapore, autralia, jepang dan italy. mereka berkata "saya jarang mendengar kumandang adzan disini". Miris hati ini mendengar berita tersebut, dan disaat ku bertanya "don't you go to the mashjid to shalat tarawih?" (kamu gak pergi ke mesjid buat tarawih?) and apa yang mereka katakan?.. "i don''t know where the mashjid is" ( saya gak tau disini tuh mesjidnya dimana?).. masya allah.. saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika posisi mereka berada di saya.
Saya berfikir.. "SUBHANALLAH SEKALI YAK UKHUWAH ISLAMIAH di saat kita menjadi minor", mengapa saya berfikir demikian... sebab selepas ba'da Subuh hari ini, saya melihat bagaimana muslim di Jepang harus melawan arus kebiasaan barat dengan mau tak mau harus MELEPAS hijabnya kembali di tempat-tempat umum. masyarakat Jepang cukup khawatir dengan keberadaan muslim disekitar mereka. sebab, mereka berfikir bahwa islam adalah "TERORIS" yang akan membom atau mengancam jiwa mereka. masya allah, dan bagaimana mereka harus mendukung 1 sama lain demi akidah mereka.
dan perlu anda ketahui, tidak itu saja yag mereka hadapi, disaat Allah mencabut nyawa mereka pun, Muslim di Jepang harus menanggung beban kembali, dimana harga pemakaman di jepang sangatlah mahal. anda tahu berapa harga sebuah pemakaman disana..? harganya adalah 150 Juta rupiah umtuk 1 makam, dan belum lagi sewa tanah yang setiap bulannya bersikar 2 Juta rupiah. Hal ini dikarenakan masyarakat Jepang biasa membakar jazad manusia yang telah meninggal.
1 lagi, di singapore.. warga muslim disana cukup sulit menemukan mashjid.. mereka pun berbuka puasa hanya dengan mengandalkan "jadwal imsyakiyah" disaat kita disini hanya tinggal mendegar adzan, sebab mashjid disini sangatlah banyak. namun mereka?!..
Subhanallah yang dapat saya katakan untuk mereka para muslim yang berada di kalangan minor. mereka mau tidak mau melaawan kebiasaan mereka yang non-muslim dan bagaimana mereka harus tetap berada di jalan Allah meski cobaan dan rintangan eksternal terus menghadang.
so.. sudah sepatutnya kita bersyukur, sebab kita masih memiliki kebebasan dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan ibadah kita, mashjid dimana-mana, bahkan di suermarket sekalipun, shalawat dikumandangkan dimana-mana meski para pemberontak non islam masih sedang sibuk berusaha agar shalawat tidak berkumandang, let's say.. ALHAMDULILLAH :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment